Showing posts with label Photographs. Show all posts
Showing posts with label Photographs. Show all posts
Monday, 24 June 2013
Tuesday, 15 January 2013
Anak Sopir Angkot ke The Big Apple
Halo Halo Halo, liburan gimana? Author harap semuanya nggak menderita pas liburan. Author sendiri sih liburannya oke oke aja <---- (nggak bisa ngomong apa-apa lagi, habis pergi liburan ke kampung dan jauh dari tangan internet yang maha ajaib)
Jadi author mau rekomendasi buku yang inspiratif buanget dan awalnya juga sempat baca karena tugas sekolah, ya apa lagi kalau bukan Bahasa Indonesia.
Jadi buku ini penulisnya Mas Iwan Setyawan, sudah pernah merambah karier di New York City selama 10 tahun dan posisi terakhirnya disana adalah sebagai Director Internal Client Management, wuidih hebat teuing eta mah...
Kalimat pertama dari sinopsis buku ini yang paling author suka itu adalah "Bapakku, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya" (Author niru baris ini nih untuk cerpen yang author buat untuk tugas Bahasa Indonesia... #heh) secara bapak author juga sebenarnya senasib sama bapaknya Mas Iwan, satu-satunya pengingat tanggal lahir cuma kejadian kehancurannya Darul Islam di Indonesia.
Author suka ceritanya Mas Iwan yang ada sangkutannya dengan perjuangan hidup di negara lain, jadi itu juga yang sebenarnya membuat author tambah penasaran dan penasaran lagi pada saat membaca buku "9 Summers 10 Autumns" ini.
Author pikir buku ini cukup kreatif juga, terutama bagaimana Mas Iwan membuat 'ilusi' merupai seorang anak kecil yang menemani hidupnya selama ia berada di New York dan dari situ juga ia dapat bercerita tentang pengalaman hidupnya dan perjuangannya untuk bisa sampai di New York. Intinya cara penyampaiannya keren juga.
Lalu juga dari sini kita tahu kalau pendidikan itu bisa, dan memang BISA merubah hidup seseorang. Pendidikan itu kan beda dengan harta, kalau harta kita yang menjaga, tapi kalau pendidikan, ya pendidikan yang dapat menjaga kita. Nah, cerita Mas Iwan ini juga mebuktikan kalau pendidikan itu efeknya hebat banget buat kita semua.
Mau kamu anak sopir angkot, anak petani, anak saudagar, cuma pendidikan yang sebenarnya bisa nentuin nasib kita semua di masa depan. Jadi, kalau anak sopir angkot bisa merubah dunianya dengan kekuatan pendidikan, gimana kita yang memang sudah terlahir mampu tapi masih malas-malas sekolah?
Hayo hayo~ Gimana hayo~
Udah lah, pokoknya gitu aja dari author. Habisnya author terkesan banget sama buku "9 Summers 10 Autumns." Pas author lihat di cover belakang bukunya, di situ ada tulisan "SEGERA DIFILMKAN."
Amin, kalo bisa usahain tahun ini ya Mas Sutradara.
-Dadah
Nibras Sakkir
Jadi author mau rekomendasi buku yang inspiratif buanget dan awalnya juga sempat baca karena tugas sekolah, ya apa lagi kalau bukan Bahasa Indonesia.
Jadi buku ini penulisnya Mas Iwan Setyawan, sudah pernah merambah karier di New York City selama 10 tahun dan posisi terakhirnya disana adalah sebagai Director Internal Client Management, wuidih hebat teuing eta mah...
Kalimat pertama dari sinopsis buku ini yang paling author suka itu adalah "Bapakku, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya" (Author niru baris ini nih untuk cerpen yang author buat untuk tugas Bahasa Indonesia... #heh) secara bapak author juga sebenarnya senasib sama bapaknya Mas Iwan, satu-satunya pengingat tanggal lahir cuma kejadian kehancurannya Darul Islam di Indonesia.
Author suka ceritanya Mas Iwan yang ada sangkutannya dengan perjuangan hidup di negara lain, jadi itu juga yang sebenarnya membuat author tambah penasaran dan penasaran lagi pada saat membaca buku "9 Summers 10 Autumns" ini.
Author pikir buku ini cukup kreatif juga, terutama bagaimana Mas Iwan membuat 'ilusi' merupai seorang anak kecil yang menemani hidupnya selama ia berada di New York dan dari situ juga ia dapat bercerita tentang pengalaman hidupnya dan perjuangannya untuk bisa sampai di New York. Intinya cara penyampaiannya keren juga.
Lalu juga dari sini kita tahu kalau pendidikan itu bisa, dan memang BISA merubah hidup seseorang. Pendidikan itu kan beda dengan harta, kalau harta kita yang menjaga, tapi kalau pendidikan, ya pendidikan yang dapat menjaga kita. Nah, cerita Mas Iwan ini juga mebuktikan kalau pendidikan itu efeknya hebat banget buat kita semua.
Mau kamu anak sopir angkot, anak petani, anak saudagar, cuma pendidikan yang sebenarnya bisa nentuin nasib kita semua di masa depan. Jadi, kalau anak sopir angkot bisa merubah dunianya dengan kekuatan pendidikan, gimana kita yang memang sudah terlahir mampu tapi masih malas-malas sekolah?
Hayo hayo~ Gimana hayo~
Udah lah, pokoknya gitu aja dari author. Habisnya author terkesan banget sama buku "9 Summers 10 Autumns." Pas author lihat di cover belakang bukunya, di situ ada tulisan "SEGERA DIFILMKAN."
Amin, kalo bisa usahain tahun ini ya Mas Sutradara.
-Dadah
Nibras Sakkir
Saturday, 10 November 2012
Atas Nama Kenangan
Berawalan dari penulis buku Travellous, Andrei Budiman, aku jadi terinspirasi untuk menulis ini di blog-ku sendiri. Walaupun bukan modal nekat mengikuti perjalanan ini, sepertinya setiap perjalanan memang berkesan bagi para pengelananya dengan caranya sendiri. Jadi...
-oOo-
Sekitar 5 bulan yang lalu waktu liburan kenaikan kelas, aku barus aja sampai dari sebuah perjalanan yang menurutku life-changing.
Mungkin ini karena aku tipe orang yang selalu bertopang dagu dan terkadang melamunkan mimpiku sendiri, bukannya malah berfikir bahwa mimpi itu 10% dan 90% apa yang akan kita lakukan terhadap mimpi itu. Ditambah orangtua pun telah berperan banyak agar aku berkesempatan untuk menginjakkan kakiku di sebuah tempat dimana urbanisasi terjadi, tetapi bukti-bukti sejarahnya masih tersebar dimana-mana.
Tak tahu apa banyak orang yang mungkin seumuran aku akan berpikiran seperti ini jika melewatinya, atau mungkin mereka hanya menganggapnya sebagai sebuah liburan yang berkesan dan yang tak dapat semua orang bisa raih dalam hidupnya.
Atau ternyata aku yang terlalu serius?
Intinya, 5 bulan yang lalu aku telah mencoba apa itu rasanya berkelana di tempat yang nun jauh dari rumah, dengan bantuan organisasi yang bernama EF (English First). Di sini kemandirian dan keberanianku diuji, Bahasa Inggrisku pun apa lagi. Tapi pasti mungkin banyak yang pernah dengar dengan kata student exchange atau mungkin home stay?
Destinasi yang waktu itu aku pilih adalah kota dengan nama Oxford.
Lelucon yang menarik untuk kota yang terkenal akan universitasnya yang prestigius
Untuk pengalamanku ini, aku ditempati di rumah nenek-nenek asing yang paling gaul yang pernah aku temui, umurnya 70 tahun dan penggila olahraga, terutama bola. Kebetulan waktu itu sedang musim-musim Euro cup jadi di rumah ribut soal bola itu non-stop.
Namanya Kathleen Smith. Walaupun gaul, Kath wataknya juga tegas (korban pernah dimarahin sama Kath karena pulang terlambat dan nggak ngasih kabar apa-apa ke dia) dan selalu bisa menjadi nenek yang tepat bagi siapa saja.
Tempat souvenir pun menjadi tempat penjual atribut untuk Euro 2012
Restauran yang juga memasang bendera-bendera untuk Euro 2012
Ngomong-ngomong di dalam rumah nenek-nenek gaul ini nggak cuma aku doang yang dirawat dia selama 2 minggu tinggal di Oxford, rumahnya juga ditempati salah satu temanku yang berasal dari Indonesia, lalu ada 2 orang yang satu berasal dari Italia dan yang satu lagi dari Spanyol.
Oke, kombinasi yang pas karena kedua teman asingku itu dari negara yang terkenal dengan tim-tim bolanya yang kuat, ditambah lagi pengetahuan mereka tentang bola yang nggak sedangkal punyaku, lalu teman Indonesiaku ini juga gila bola, sepertinya aku doang ya yang gila anggar #ApaPula
Sarah (Kiri), teman serumahku yang dari Indonesia
Tapi di balik semua itu kita juga berhadapan dengan namanya perbedaan budaya, dan satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan toleransi dan respek.
Teman Italiaku ini adalah seorang ateis, teman Indonesiaku ini yang kebetulan berasal dari Bali adalah seorang nasrani, Kath juga. Tetapi aku kurang tahu untuk teman Spanyolku, dan sepertinya itu semua menjadikan aku satu-satunya anak yang beragama Islam di rumah Kath.
Tapi aku sudah merasa mereka semua sebagai keluarga, awalnya sulit untuk membayangkan hanya dalam jangka waktu 2 minggu, dengan perbedaan-perbedaan yang bisa dibilang berbeda 180˚, kita semua sudah merasa seperti mengenal satu sama lain dengan dekat.
Nuria (kanan) & Kath
Temanku yang seorang Italia, bernama Nuria (eh ritmenya jadi keren tiba-tiba #plak) pernah bilang sesuatu yang kira-kira seperti ini bunyinya,
"Nini (panggilan sayangku #eh) , hurry up. You must pray first and after that go get to sleep!"
Dan disini semua memori tentang kelalaianku terhadap sholat-sholatku sejenak berkumpul.
Lalu berfikir, perbedaan itu sesuatu yang sangat indah ya...
Dadah
Nibras Sakkir
-oOo-
Di atas langit Rusia/Ukraina aku merenung, apa ini mimpi?
Di atas Kota London
Bagi para "Potterhead" sepertinya Oxford adalah destinasi yang tepat
Saturday, 27 October 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)













